Pilihan pertama tuk mengadu tentu jatuh pada Tuhanku, Allah SWT sebagai pelindungku. Namun, tak dipungkiri terkadang aku masih merasa butuh sosok inspirasi tuk kujadikan contoh, dalam peranku sebagai perempuan. Pilihan itu pun jatuh pada tiga tokoh perempuan, yaitu Aisyah RA, RA. Kartini dan Dae Jang Geum. Dan saat ini aku ingin berbagi sedikit kisah tentang mereka, dalam lebur ceritaku...
Aisyah radhiyallahu anha

Pesona sejati itu lahir dari sebuah kepribadian yang matang, kuat tapi meneduhkan. Di sinilah seseorang dapat mengatakan, “rumahku surgaku”. Ketika sedang berada di dalamnya, ia menjadi sumber energi untuk berkarya di luar. Ketika berada di luarnya, selalu ada kerinduan untuk kembali.
Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah, sehingga ia banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau, sebagairnana perkataannya ini: “Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau” (HR. Bukhari)
Ia bak penunjuk arah di langit sejarah, karena banyaknya jumlah hadits yang beliau hafal dari Rasulullah dan kepahamannya tentang fiqih. Hingga menjadi rujukan utama bagi sahabat Rasul yang lain, setelah Rasulullah wafat. Bahkan Aisyah pernah memimpin 30 ribu pasukan dari Makkah dalam perang Unta (Ashhab alJamal)...Subhanallah...
Raden Adjeng Kartini
Putri pertama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dan M.A. Ngasirah ini, memiliki pemikiran-pemikiran yang menakjubkan. Melalui surat-suratnya, ia ungkapkan keluhan dan gugatan, khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Kemudian persoalan agama tak luput dari kritikannya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai, jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Dan masih banyak lagi pemikiran RA. Kartini guna kemajuan perempuan Indonesia kala itu, bersyukur karena Indonesia memiliki seseorang sepertinya, termasuk aku. Mungkin bagi yang lain dia adalah seseorang, tapi bagiku perempuan Indonesia, dia adalah dunia.
Sumber: www.wikipedia.com
Dae Jang Geum

Perjalanan hidupnya sebagai seorang Dayang Istana hingga menjadi Dokter Kerajaan, yang membuat ku kagum. Karena kepandaiannya ia dijauhi banyak orang yang iri padanya, bahkan tak segan-segan percobaan pembunuhan juga menghampiri dirinya. Tapi semangat dan kegigihannya begitu kuat dan nampak, terlihat dari lika-liku hidupnya. Beberapa kali di fitnah, dicoba tuk dibunuh, terkena hukuman cambuk bahkan diasingkan dipulau terpencil.
Hukuman pengasingan di pulau terpencil dijadikan batu sandungan tuk kembali maju. Ia belajar pengobatan bahkan menemukan ramuan-ramuan baru untuk ilmu kedokteran. Hal itu pula yang mengantarkannya kembali ke istana namun sebagai seorang Perawat Istana. Gabungan dari kepandaian, semangat dan kegigihan seorang perempuan, ia mampu menggapai bintang yang banyak diinginkan orang. Sebuah sejarah baru ia ukir, yaitu menjadi Dokter Perempuan pertama dalam Kerajaan pada masanya.
Mungkin dari ketiga tokoh diatas yang mampu terlukis dalam pikiranku adalah sosok Dae Jang Geum ini. Karena kisahnya yang diadopsi dalam sebuah film berjudul ‘Jewel in The Palace’. Semangat dan kegigihannya dibuat secara nyata hingga mampu tergambar jelas dalam pikiranku. Tak pelak aku sering menempatkan diriku pada dirinya, dalam hati aku bertanya ‘apa yang akan ia (Jang Geum) lakukan jika ia berada dalam keadaan ku saat ini?’.
Begitulah kisah mereka, perempuan-perempuan hebat yang mampu mengukir hidup mereka secara sempurna penuh gejolak jiwa...Menjadikan lembah-lembah curam tertunduk malu menyaksikan kisah hidup mereka. (◦'ں'◦) Mampukah aku mengukir hidupku dengan indah namun menggugah gairah jiwa???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar