Jumat, 05 Oktober 2012

Sosok Perempuan Inspirasiku

Membuat ukiran-ukiran nan menawan dan memesona dalam hidup, hingga hidup terasa hidup tak semudah yang terpikirkan dalam khayalanku. Terkadang aku harus menantang diriku sendiri tuk mampu bertahan hidup. Hingga perasaanku pun berubah-ubah tentang hidup, dimulai dari sebuah rasa benci, senang, sedih, hingga sering merasa kebingungan menghadapi semua itu, bahkan tak sekali pula diri ini harus menanggalkan perasaan demi hidup.
Pilihan pertama tuk mengadu tentu jatuh pada Tuhanku, Allah SWT sebagai pelindungku. Namun, tak dipungkiri terkadang aku masih merasa butuh sosok inspirasi tuk kujadikan contoh, dalam peranku sebagai perempuan. Pilihan itu pun jatuh pada tiga tokoh perempuan, yaitu Aisyah RA, RA. Kartini dan Dae Jang Geum. Dan saat ini aku ingin berbagi sedikit kisah tentang mereka, dalam lebur ceritaku...

Aisyah radhiyallahu anha
Aisyah binti Abu Bakar, putri seorang khalifah pertama dan merupakan istri ketiga Nabi Muhammad SAW. Jika Khadijah memesona karena kematangan jiwa-nya, maka Aisyah memberikan gabungan pesona kecantikan, kecerdasan dan kematangan dini kepada setiap insan yang melihatnya. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan, “Cinta pertama yang terjadi di dalam Islam adalah cintanya Rasulullah kepada Aisyah .”
Pesona sejati itu lahir dari sebuah kepribadian yang matang, kuat tapi meneduhkan. Di sinilah seseorang dapat mengatakan, “rumahku surgaku”. Ketika sedang berada di dalamnya, ia menjadi sumber energi untuk berkarya di luar. Ketika berada di luarnya, selalu ada kerinduan untuk kembali.
Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah, sehingga ia banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau, sebagairnana perkataannya ini: “Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau” (HR. Bukhari)
Ia bak penunjuk arah di langit sejarah, karena banyaknya jumlah hadits yang beliau hafal dari Rasulullah dan kepahamannya tentang fiqih. Hingga menjadi rujukan utama bagi sahabat Rasul yang lain, setelah Rasulullah wafat. Bahkan Aisyah pernah memimpin 30 ribu pasukan dari Makkah dalam perang Unta (Ashhab alJamal)...Subhanallah...

Raden Adjeng Kartini
Putri pertama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dan M.A. Ngasirah ini, memiliki pemikiran-pemikiran yang menakjubkan. Melalui surat-suratnya, ia ungkapkan keluhan dan gugatan, khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Kemudian persoalan agama tak luput dari kritikannya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai, jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Dan masih banyak lagi pemikiran RA. Kartini guna kemajuan perempuan Indonesia kala itu, bersyukur karena Indonesia memiliki seseorang sepertinya, termasuk aku. Mungkin bagi yang lain dia adalah seseorang, tapi bagiku perempuan Indonesia, dia adalah dunia.
Sumber: www.wikipedia.com

Dae Jang Geum
Mungkin sosok yang satu ini kurang dikenal di Indonesia, karena ia berasal dari Korea. Tokoh nyata dalam catatan sejarah Dinasti Joseon dan dokumen medis dari masa itu, ia menjadi dokter kerajaan perempuan pertama di Korea. Berawal dari sebuah perjuangannya untuk menjadi Dayang Istana atas keinginan ibunya, agar Jang-geum menjadi Juru Masak Kepala di dapur kerajaan dan mencatat kasus Ibunya, dalam catatan sejarah rahasia kaum perempuan di dapur (dengan maksud mengembalikan kehormatan ibunya sebagai dayang istana sebelum diusir dan kemudian menikah).
Perjalanan hidupnya sebagai seorang Dayang Istana hingga menjadi Dokter Kerajaan, yang membuat ku kagum. Karena kepandaiannya ia dijauhi banyak orang yang iri padanya, bahkan tak segan-segan percobaan pembunuhan juga menghampiri dirinya. Tapi semangat dan kegigihannya begitu kuat dan nampak, terlihat dari lika-liku hidupnya. Beberapa kali di fitnah, dicoba tuk dibunuh, terkena hukuman cambuk bahkan diasingkan dipulau terpencil.
Hukuman pengasingan di pulau terpencil dijadikan batu sandungan tuk kembali maju. Ia belajar pengobatan bahkan menemukan ramuan-ramuan baru untuk ilmu kedokteran. Hal itu pula yang mengantarkannya kembali ke istana namun sebagai seorang Perawat Istana. Gabungan dari kepandaian, semangat dan kegigihan seorang perempuan, ia mampu menggapai bintang yang banyak diinginkan orang. Sebuah sejarah baru ia ukir, yaitu menjadi Dokter Perempuan pertama dalam Kerajaan pada masanya.
Mungkin dari ketiga tokoh diatas yang mampu terlukis dalam pikiranku adalah sosok Dae Jang Geum ini. Karena kisahnya yang diadopsi dalam sebuah film berjudul ‘Jewel in The Palace’. Semangat dan kegigihannya dibuat secara nyata hingga mampu tergambar jelas dalam pikiranku. Tak pelak aku sering menempatkan diriku pada dirinya, dalam hati aku bertanya ‘apa yang akan ia (Jang Geum) lakukan jika ia berada dalam keadaan ku saat ini?’.
Begitulah kisah mereka, perempuan-perempuan hebat yang mampu mengukir hidup mereka secara sempurna penuh gejolak jiwa...Menjadikan lembah-lembah curam tertunduk malu menyaksikan kisah hidup mereka. (◦'ں'◦) Mampukah aku mengukir hidupku dengan indah namun menggugah gairah jiwa???

Angkringan, Sekadar Canda Hingga Diskusi Soal Negara

Berpikir tentang Indonesia, tentu identik dengan keberagaman sumber daya alam dan manusianya. Mengarahkan pula pemikiran pada falsafah gotong royong dan toleransi di negeri ini. Bicara Indonesia, falsafah, dan keaneka ragaman ini, teringat pada suatu konsep kebersahajaan di sudut kota Jogja. Angkringan, secara harfiah berasal dari bahasa Jawa yaitu angkring, yang berarti duduk santai. Sebuah gerobak dorong dengan tungku kayu, menjual berbagai macam makanan dan minuman. Biasanya terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dan lebih dikenal dengan warung Hidangan Istimewa ala Kampung di kota Solo.

Gerobag angkringan inipun biasanya membawa tiga buah ceret besar sebagai lokomotif utama, untuk menghidangkan minuman. Beroperasi mulai sore hari, mengandalkan penerangan tradisional yaitu lampu teplok yang memberi warna remang-remang eksotis. Juga diiringi oleh terangnya lampu jalanan. Kursi kayu panjang mengelilingi sekitar gerobak, beratapkan kain terpal plastik yang dapat digulung menambah keunikan dari angkringan.

Yang menarik dari warung berlokasi dekat kawasan Malioboro ini, adalah konsep sahaja penuh kesederhanaan. Tempat berkumpul banyak orang dengan berbagai latar belakang usia, pekerjaan, dan budaya tanpa mengenal batas. Dari rombongan kawula muda gaul bermobil mewah hingga para pemuda kumal bersepeda ontel, laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda, tumpah ruah dengan kehangatan senyum dan canda tawa dalam perbincangan mereka di warung ini. Menikmati makanan sembari berbincang hingga larut malam meski tak saling kenal, dipadu padankan dengan indahnya malam diterangi lampu berwarna kuning. Atau sekadar berkumpul dengan teman, hingga datang hanya untuk melepas lelah atau menghilangkan jenuh setelah seharian beraktifitas.

Angkringan kini tak hanya sekedar tempat makan, melainkan tempat ngangkring, berbagi, refreshing, dan bahkan menjadi sumber inspirasi. Hal lain yang cukup mengesankan dari para pengunjung angkringan ini adalah sebagai tempat diskusi dan berkumpulnya orang-orang dengan berbagai kepentingan. Ide-ide segar, rencana aksi demonstrasi yang dirancang oleh aktivis kampus. Tempat munculnya ide skripsi dan penelitian, diskusi politik, maupun sekadar ngobrol ngalor-ngidul atau gojeg kere, sebutan khas Jogja untuk bercanda. Angkringan Tugu misalnya menjadi salah satu pilihan jitu berkumpulnya kalangan aktivis pergerakan mahasiswa, maupun kaum akademisi yang menuntut ilmu. Selain untuk berdiskusi dan mencetuskan gagasan, banyak dari mereka yang datang untuk menyegarkan pikiran.

Fenomena sosial inipun mengingatkan kita pada kata-kata filsuf Aristoteles -- disempurnakan oleh Thomas Aquinas-- “aku memahami diri begini dan begitu dalam sebuah konfrontasi.” Berkaitan dengan beragama motivasi tersebut, Parsudi Suparlan dalam konsepsinya mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam kaitannya dengan sistem ide --yang dimiliki oleh masyarakat yang tersangkutan-- mencakup hal-hal seperti nilai, selera, cipta dan rasa. Nyatanya angkringan juga bukan hanya menggambarkan konsep toleransi atau tepo seliro, tetapi juga biso rumongso atau bisa mengerti perasaan orang lain dan berbagi.

Dalam sektor ekonomi, pengelola angkringan menggunakan sistem ekonomi gotong royong berbasis kearifan lokal. Juragan angkringan memiliki modal cukup besar namun tak memonopoli seluruh kebutuhan dagangan anak buahnya, bahkan gerobak juga dimiliki oleh si pedagang. Juragan biasanya menyediakan barang-barang untuk minuman dan rokok. Sedangkan berbagai penganan lain disediakan oleh pemasok yang biasanya merupakan tetangganya di kampung. Dan sedikitnya, setiap angkringan disuplai oleh lima belas pemasok. Para pedagang kecil pemasok penganan juga menerapkan konsep berbagi. Seorang pembuat nasi bungkus dengan lauk teri, tidak akan membuat jenis makanan dengan lauk tempe yang telah dibuat oleh orang lain. Masing-masing punya batas, dan teritorial. Sistem ekonomi rakyat yang belum terumuskan sebagai teori ekonomi seperti ini, jelas berbeda dengan berbisnis di sebuah mal yang ketat dan keras aturan mainnya.

Dan kini jumlah total angkringan di Jogja diperkirakan lebih dari 1.000 buah, dengan 1.200-an pedagang, serta lebih dari 30.000 warga kampung penyuplai makanan. Menyegani konsep sahaja dan toleransi dengan kesederhanaannya, pada warung yang dikenal pula dengan Café Ceret Telu ini, tidak terlepas dari sejarah yang membawanya. Dimulai pada era 1950-an, Mbah Pawiro seorang pedagang makanan yang berasal dari pelosok Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Hijrah ke Yogyakarta guna mengadu nasib karena tak ada lagi lahan subur di daerahnya. Beliau menjajakan dagangan dengan pikulan dan berpindah-pindah di sekitar Stasiun Tugu. Teriakan khas “hiiik..iyeek..” Mbah Pawiro inilah yang melahirkan isitilah HIK di Solo.

Hingga pada 1969, diwariskan kepada putranya yakni Lik Man, yang terkenal dengan menu andalan “Kopi Joss”. Yaitu kopi hitam pekat dicelup dengan arang yang membara atau mowo hingga terdengarnya bunyi “joss” pada saat bara arang dicemplungkan ke dalam gelas kopi. Kabarnya, kadar kafein yang terkandung di kopi joss tergolong rendah karena telah dinetralisir oleh arang yang dicelupkan ke dalam seduhannya. Meski adapula yang mengatakan kopi tersebut mengandung karsinogen.

Kekhasan kuliner juga bertambah dengan adanya sego kucing atau nasi kucing, dikatakan demikian karena porsinya yang hanya segenggam nasi dengan hiasan oseng tempe, sambel teri atau sambel trasi dan yang lainnya dibalut dengan daun pisang dan kertas koran. Dijajakan pula gorengan, sate usus dan sate telur puyuh, jadah, jenang, dan wajik. Serta minuman berupa wedang jahe, susu jahe, wedang tape, teh panas dan sebagainya.


Dan yang menambah motivasi untuk berkunjung, harga makanan dan minumannya yang sangat murah. Sunguh kenikmatan yang luar bisa menikmati makanan khas, ditemani hingar bingar malam kota Jogja dan lantunan bunyi lonceng penanda datang dan berangkatnya kereta. Ditambah indahnya toleransi dalam kebersamaan dengan banyak orang dari berbagai kalangan, yang terekam dalam perbincangan di sudut kota ini.